Amerika Serikat Tak Lagi Anggap Indonesia sebagai Negara Berkembang

TrenAsia (TA) - USA – Amerika Serikat menyatakan telah mencabut Indonesia dari daftar negara-negara berkembang.

Berdasarkan laporan China Morning Post (22/2/2020), selain Indonesia terdapat 24 negara lain yang berstatus sama. Office of the US Trade Representative (USTR) menyebutkan daftar negara tersebut, antara lain Albania, Argentina, Armenia, Brazil, Bulgaria, China, Kolombia, Kosta Rika, Georgia, Hong Kong, India, Kazakhstan, Republik Kirgis, Malaysia, Moldova, Montenegro, Makedonia Utara, Romania, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Thailand, Ukrania, dan Vietnam.  

Hal itu menandakan bahwa preferensi khusus, yakni Special Differential Treatment (SDT) dalam WTO Agreement on Subsidies and Countervailing Measures tidak berlaku lagi bagi negara-negara tersebut.

Selama ini, preferensi khusus yang diterapkan oleh WTO bertujuan untuk membantu menurunkan kemiskinan, menyerap tenaga kerja, dan mengintegrasikan negara-negara tersebut ke dalam sistem perdagangan dunia.

Namun, Presiden AS Donal Trump menilai perlakuan WTO tersebut tidak adil karena menurutnya negara, seperti China dan India memiliki pendapatan ekonomi yang besar. Di samping itu, keputusan tersebut dilakukan sebagai upaya pembaruan pedoman yang dianggap sudah using lantaran dibuat sejak tahun 1988.

Dengan demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, seperti dikutip Kontan (21/22020), mengatakan bahwa kebijakan baru ini akan berdampak pada fasilitas-fasilitas negara berkembang. Menurutnya, ekspor barang-barang Indonesia akan dikenai tarif tinggi, termasuk pajak impor dan bea masuk.

“Tapi kami tidak khawatir,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) surplus perdagangan Indonesia dengan AS pada Januari 2020 sebesar 1,01 miliar dollar AS, angka ini tumbuh dari periode tahun lalu, yakni 804 juta dollar AS.