Berani Inovasi, Kunci Perusahaan Bertahan di Era Digital

TrenAsia (TA) - JAKARTA – Banyak perusahaan menyalahartikan transformasi digital dengan hanya melibatkan teknologi modern. Faktanya, transformasi digital butuh lebih dari persoalan teknologi semata.

Seperti dikutip dari survei yang dilakukan oleh MIT Sloan Management Review dan Deloitte (10/02), hampir 90 persen para pebisnis sadar dan mengantisipasi tren digital yang akan berpengaruh terhadap industrinya. Akan tetapi, hanya 44 persen yang cukup siap menghadapinya.

Ini sangat selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Digital Banking Report, di mana hanya 12 persen organisasi perbankan menganggap pihaknya cukup mumpuni dalam transformasi digital.

Alasan mengapa sebagian besar bank dan perusahaan kredit terseok-seok beradaptasi adalah kompleksnya instrumen adaptasi yang harus disiapkan perusahaan. Tidak hanya sistem perbankan digital yang harus ditingkatkan, tetapi struktur bisnis, operasional, kapasitas pegawai, budaya kerja, dan kepemimpinan yang semuanya harus selaras.

Gerald C. Kane, seorang Profesor Sistem Informasi dari Boston College’s Carroll School of Management mengatakan pada The Financial Brand (10/01) bahwa penting bagi sebuah perusahaan memiliki toleransi risiko.

Berani Bereksperimen

“Jika masih ada perusahaan yang berharap untuk mendapatkan jawaban yang benar setiap saat, itu akan sangat sulit untuk beradaptasi dan berubah. Apa yang perlu dilakukan perusahaan adalah lebih banyak eksperimen kecil. Cari tahu apa yang berhasil, ulangi, dan kemudian bangun di atas keberhasilan.”

Contoh yang bagus saat ini adalah Walmart. Meskipun telah menjadi perusahaan yang besar dan mapan, mereka terus melakukan beberapa hal yang luar biasa. Beberapa di antaranya melalui akuisisi beberapa perusahaan lain.

Dalam banyak kasus di lapangan, Kane menemui banyak perusahaan yang memiliki pola pikir yang tidak berkembang sehingga tidak dapat menerima perubahan-perubahan di sekitarnya. Padahal, sebagai perusahaan yang sedang mengalami perubahan zaman, keterbukaan akan inovasi menjadi mutlak jika ingin tetap bertahan di industri.

“Ketika perusahaan dapat mengubah pola pikir itu, mereka dapat mencapai hal-hal besar. Ketika saya berbicara dengan perusahaan tentang hal ini, pola pikir adalah hal pertama yang akan saya ubah, karena jika perusahaan dapat mengubah pola pikir itu dan berkata, “Kita bisa melakukan ini,” maka, banyak hal baik yang bisa diikuti,” ujarnya.

Faktanya, perusahaan perintis yang kurang matang secara digital hanya menghabiskan kurang dari 10 persen waktu mereka untuk inovasi. Sedangkan perusahaan yang sudah matang secara digital mengatakan mereka menghabiskan lebih dari 10 persen waktunya untuk berinovasi.

“Kami menemukan bahwa perbedaan terbesar antara perusahaan yang melakukan inovasi dengan perusahaan yang hanya melakukan “teater inovasi” adalah apakah inovasi yang terjadi dalam eksperimen benar-benar diluncurkan di seluruh perusahaan,” tutup Kane.