Harga Saham IPO Terbang 68,8%, OPMS Juga Raih Modal Rp 54 miliar

TrenAsia (TA) - TRENASIA-Wajah para direksi dan pemegang saham PT Optima Metal Prima Sinergi Tbk (OPMS) tampak sumringah setelah melihat harga saham perdananya melesat tinggi saat pembukaan perdagangan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (23/9).

Tepat pukul 09.00 WIB, saham OPMS yang dilepas pada harga Rp 135 per saham, langsung terbang hingga ke level tertinggi yaitu Rp 228 per saham atau melesat 68,8%. Artinya, bagi investor yang membeli saham senilai Rp 1 miliar, maka nilai sahamnya itu langsung naik menjadi Rp 1,68 miliar.

Direktur Utama OPMS Meilyna Widjaja mengaku bersyukur bahwa IPO perusahaannya berjalan lancar dan sukses. Dan lebih penting lagi OPMS berhasil mendapatkan kepercayaan tinggi dari para investor.

“Kami tentu sangat gembira dan bersyukur proses IPO OPMS berlangsung dengan baik. Kepercayaan dari investor akan semakin memacu kami untuk terus memperkuat kinerja perusahaan di masa depan,” ujar Meilyna di gedung BEI, Jakarta (23/9).

Dari IPO ini, OPMS yang kantor pusatnya di Surabaya ini, akan mengantongi dana segar sekitar Rp 54 miliar. Total saham yang dijual ke publik sebanyak 400 juta saham atau 40 % dari total saham perseroan.op

Meilyna bilang, dengan tambahan modal itu perusahaan akan mendorong pembelian kapal bekas lebih banyak. Hal ini dilakukan mengingat kebutuhan besi scrap oleh perusahaan-perusahaan peleburan besi baja masih sangat besar.

Selama ini, lanjut Meilyna, pengusahaan besi scrap dari kapal bekas lebih banyak dilakukan oleh individu. Dengan membentuk perusahaan yang fokus menangani pasar besi scrap dari kapal bekas ini, OPMS berharap bisa menjaring banyak pemasok kapal dan pembeli besi scrap.

“Melalui OPMS kami membawa standar baru dalam transaksi kapal-kapal bekas. Semua melalui proses administrasi yang jelas, sehingga memudahkan eksekusi pada kapal yang akan di proses menjadi besi scrap,” katanya.

POTENSI SANGAT BESAR

Sebagai negara maritim, Indonesia memang memiliki ribuan kapal. Data Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) mencatat hingga tahun 2016 saja jumlah kapal di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 24 ribu unit.

Meilyna mengatakan, dari ribuan kapal yang tersebar di Indonesia, OPMS membidik kapal-kapal tua yang berusia diatas 25 tahun. Karena dengan usia diatas itu, tidak ada lagi perusahaan asuransi yang berani memberikan jaminan. Sehingga pemilik kapal kemungkinan besar akan meremajakan kapalnya.

“Peluang pengolahan kapal bekas menjadi besi scrap masih sangat terbuka. Itulah sebabnya kami melakukan IPO untuk mendapatkan tambahan modal,” imbuhnya.

Sebagai perusahaan pionir besi scrap kapal bekas, dalam setahun OPMS memotong sebanyak 8 – 10 kapal bekas. Tahun 2019 ini, OPMS menargetkan menjual 24 ribu ton besi scrap hasil pemotongan dari kapal-kapal bekas. Untuk merealisasikan target tersebut OPMS akan terus menambah kontrak pembelian kapal bekas dan sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pelayaran di Indonesia.

Bagi perusahaan pengolahan besi baja, menurut data US Environmental Protection Agency, penggunaan besi scrap jauh lebih efisien, yakni untuk menggantikan biji besi murni mampu menghemat penggunaan raw material / bahan baku sebesar 90%, menghemat energi sebesar 75%, menghemat penggunaan air sebesar 40%, mengurangi polusi air sebesar 76%, dan mengurangi limbah tambang sebesar 97%.

‚ÄúDengan memasok bahan baku besi scrap ke perusahaan pengolahan besi baja, kami juga ikut mengurangi impor. OPMS dengan standar produk yang dimiliki optimis bisa mengoptimalkan peluang bisnis yang sangat besar ini,” tutur Meilyna