Nelayan Angke Lebih Butuh Lapangan Kerja

TrenAsia (TA) - Ketua Komunitas Nelayan Muara Angke, Jakarta Utara,
Diding Setiawan, berharap pembangunan di kawasan itu dapat dilanjutkan. Pasalnya menggantungkan hidup dari laut dianggap akan semakin sulit.

Selain lokasi tangkapan ikan yang semakin jauh, hasil melaut makin tidak pasti. Apalagi jika musim gelombang tinggi tiba, praktis tidak ada aktivitas melaut selama berbulan-bulan.

“Kami ingin hidup lebih baik. Melaut saat ini semakin sulit sementara anak-anak kami banyak yang butuh kerja. Kami harap ada upaya agar banyak lapangan kerja buat keluarga nelayan seperti kami,” ujar ketua komunitas nelayan Muara Angke Diding Setiawan di Jakarta Kamis (12/09/2019).

Diding bercerita, saat ini makin banyak dari anak keluarga nelayan yang enggan bekerja di laut. Selain pendapatan  tidak pasti, mereka ikut terpengaruh dengan perubahan zaman. Informasi yang mudah diakses dan pergaulan yang makin terbuka menjadikan wawasan anak-anak muda Angke juga makin luas.

“Bisa dihitung anak-anak nelayan yang mau melaut. Banyak yang pilih kerja di mall atau perkantoran yang ada di sekitar Angke ini,” tambahnya.

Tentang proyek pembangunan Pulau Bersama yang saat ini terhenti, H. Sugianto, seorang tokoh masyarakat Muara Angke, menilai  mandegnya proyek justru merugikan masyarakat nelayan. Karena proyek Pulau Bersama yang sudah direklamasi itu justru mempersulit aktivitas nelayan jika tidak segera dilanjutkan.

“Jika tidak dibangun lagi, urukan pasir reklamasinya yang sudah sangat luas tidak bisa dihilangkan. Kami warga Angke lebih berharap proyek ini dilanjutkan seperti rencana pak Gubernur agar bisa menyediakan lapangan kerja,” kata Sugianto.

Sebelumnya para pengusaha properti yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) mengapresiasi langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk melanjutkan pembangunan di pulau hasil reklamasi. Pasalnya, banyak dampak positif yang akan muncul dari pembangunan di pulau reklamasi.

Pertama, pemerintah akan mendapatkan pemasukan dari pajak. Kedua, penyerapan tenaga kerja, dan ketiga munculnya perekonomian baru.

“Dengan beroperasinya properti-properti di pulau reklamasi, akan men-generate income, baik langsung maupun tidak langsung sehingga menggerakan perekonomian,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP REI, Bambang Eka Jaya beberapa waktu lalu.

Selain itu, akan banyak penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat, termasuk masyarakat pesisir di utara Jakarta. Seperti anak-anak nelayan, yang tidak hanya bisa sekolah di pulau reklamasi, tapi kelak juga bisa mendapatkan pekerjaan ditempat tersebut.

“Kita anggap satu ruko punya 10 staf, itu artinya jika ada seribu ruko maka akan menyerap 10.000 lapangan kerja. Itu belum termasuk gedung-gedung dan rumah-rumah baru,” ujar Bambang.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, negara akan diuntungkan dari sisi pajak atas pembangunan pulau reklamasi. “Jadi, ketika kawasan ini [pulau reklamasi] berkembang, kegiatan perekonomian tumbuh, maka pendapatan negara meningkat,” kata Anies.

Selain soal pendapatan pajak, menurut Anies Pemprov DKI juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengelolaan pulau reklamasi dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan publik.