Serangan Siber, Ancaman Besar Dunia Perbankan

TrenAsia (TA) - JAKARTA – Kepala European Central Bank (ECB), Christine Lagarde memperingatkan bahwa serangkaian serangan siber pada bank-bank penting dunia dapat memicu ketidakstabilan keuangan.

“Sebagai operator infrastruktur vital, ECB menanggapi ancaman semacam itu dengan sangat serius,” katanya pada Independent (10/02).

Ia memperkirakan biaya atas serangan siber dapat mencapai 45 miliar dolar sampai  654 miliar dolar AS. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa serangan siber dapat berubah menjadi krisis keuangan yang serius.

Spesifiknya, ia mencontohkan kasus seperti pemadaman operasional atau mengenkripsi rekening saldo dari lembaga keuangan utama dapat memicu krisis likuiditas.

“Sejarah menunjukkan bahwa krisis likuiditas dapat dengan cepat menjadi krisis sistemik. ECB sangat menyadari bahwa ia memiliki kewajiban untuk mempersiapkan dan bertindak secara preventif.”

Tindakan Preventif

Pada Juni tahun lalu, G7 mengadakan latihan manajemen krisis multi-sektor mengenai insiden dunia maya yang dapat mempengaruhi sistem keuangan. Pelatihan ini adalah kali pertama Kementerian Keuangan, Bank Sentral, Regulator, dan otoritas pasar keuangan berkumpul membahas serangan siber.

Pertemuan tersebut tidak hanya dilihat dari sektor keuangan saja, tetapi G7 juga meminta Kelompok Pakar Siber ​​untuk meninjau peraturan keuangan dan melihat apakah dampaknya dapat analisis secara lebih dini.

Di Indonesia, prediksi meningkatnya risiko keamanan siber dunia perbankan telah disampaikan sejumlah pihak, salah satunya perusahaan solusi keamanan siber Trend Micro.

Country Manager Tren Micro Indonesia, Laksana Budiwiyono mengatakan serangan siber terhadap perbankan dan perusahaan Finansial Teknologi (Fintek) di Indonesia memang akan meningkat. Hal ini berkat penggunaan platform baru yang butuh proteksi lebih kuat, seperti misalnya penggunaan komputasi awan.

“Perkiraannya, tahun depan akan didominasi oleh serangan malware, yaitu fileless.Malware jenis baru ini tidak terlihat oleh filter keamanan trandisional, karena dapat menyamar menjadi bagian dari sistem,” katanya pada awak media.

Kerugian di Indonesia

Dilansir dari Katadata (10/01), survei lembagai audit dan konsultan ekonomi, PricewaterhouseCoopers (PwC) menghasilkan data bahwa perbankan Indonesia kehilangan ratusan juta dolar AS akibat serangan siber.

Sebanyak 14 persen responden mengaku kehilangan 1 juta dolar AS dan 1 persen lainnya bahkan merugi sampai 100 juta dolar AS. Survei ini dilakukan pada 52 responden dari 43 bank yang ada di Indonesia.

Adapun jenis malware yang paling banyak menyebabkan kerugian perbankan adalah Cryptojacking. Malware diam-diam menginfeksi perangkat secara tersembunyi dan mencuri mata uang virtual atau cryptocurrency.