Terjadi Penyebaran Super Virus Corona, Kota Daegu Korea Selatan Mendadak Sepi

TrenAsia (TA) - Daegu-Jalan-jalan di kota terbesar keempat Korea Selatan, Daegu, pada Kamis (20/02) mendadak sepi ketika penduduk memilih bersembunyi di dalam ruangan setelah puluhan orang terjangkit virus corona dalam apa yang oleh pihak berwenang digambarkan sebagai “peristiwa penyebaran super” di sebuah gereja.

Mal-mal perbelanjaan dan bioskop-bioskop Daegu, sebuah kota berpenduduk 2,5 juta orang tersebut lengang dan menjadi salah satu situasi  paling mencolok di luar China terkait wabah yang sedang berusaha dicegah oleh otoritas internasional agar tidak menyebar menjadi pandemi global.

Penelitian baru menunjukkan virus itu lebih menular daripada yang diperkirakan sebelumnya. Di China, di mana virus telah menewaskan lebih dari 2.100 orang, para pejabat mengubah metodologi mereka untuk melaporkan infeksi yang memunculkan keraguan baru tentang data yang mereka kutip sebagai bukti keberhasilan dalam memerangi penyebarannya.

Walikota Deagu Kwon Young-jin mengatakan kepada penduduk untuk tetap tinggal di dalam rumah setelah 90 orang yang beribadah di gereja Gereja Yesus the Temple of the Tabernacle menunjukkan gejala infeksi dan puluhan kasus baru dikonfirmasi.

Gereja dihadiri oleh seorang wanita berusia 61 tahun yang dites positif dan dikenal sebagai “Pasien 31”. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea menggambarkan wabah di sana sebagai “peristiwa penyebaran super”.

“Kami berada dalam krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Kwon kepada wartawan, menambahkan bahwa semua anggota gereja akan diuji. “Kami telah meminta mereka untuk tinggal di rumah yang terisolasi dari keluarga mereka.”

“Sepertinya seseorang menjatuhkan bom di tengah kota. Seperti kiamat zombie,” kata Kim Geun-woo, 28 seorang warga menggambarkan situasi kota Daegu kepada Reuters melalui telepon.

Korea Selatan sekarang memiliki 104 kasus yang dikonfirmasi dari virus seperti flu, dan melaporkan kematian pertamanya.

Di China, para pejabat mengatakan menurunnya jumlah kasus-kasus baru sebagai bukti bahwa mereka berhasil mempertahankan sebagian besar virus di Provinsi Hubei dan ibukotanya, Wuhan, tempat virus itu awalnya muncul.

Tetapi revisi metodologi mereka telah menimbulkan keraguan tentang data tersebut. Di bawah metodologi terbaru, yang mengecualikan sinar-X dada, China melaporkan kurang dari 400 kasus baru selama beberapa hari terakhir, kurang dari seperempat dari jumlah yang telah ditemukan dalam beberapa hari terakhir berdasarkan metode sebelumnya.

Baru minggu lalu, perubahan lain dalam metodologi China menciptakan lonjakan hampir 15.000 kasus baru dalam semalam, membalikkan tren penurunan jumlah yang sebelumnya disebut-sebut oleh pejabat China sebagai bukti strategi penanggulangan penyakit mereka berhasil.

Para ilmuwan di China yang mempelajari swab hidung dan tenggorokan dari 18 pasien yang terinfeksi virus mengatakan, mereka berperilaku jauh lebih seperti influenza daripada virus lain yang sejenis, menunjukkan bahwa itu mungkin menyebar lebih mudah daripada yang diyakini sebelumnya.

Para ilmuwan ini menulis dalam temuan awal yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine dengan mengatakan setidaknya dalam satu kasus, virus ada meskipun pasien tidak memiliki gejala, menunjukkan pasien yang tidak memiliki gejala dapat menyebarkan penyakit.

“Jika dikonfirmasi, ini sangat penting,” kata Dr Gregory Poland, seorang peneliti vaksin Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Dua penumpang kapal pesiar meninggal

Jepang melaporkan kematian dua penumpang tua dari kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di lepas pantai Yokohama. Mereka tampaknya adalah orang pertama yang meninggal karena penyakit dari kapal, kelompok infeksi terbesar di luar China daratan dengan lebih dari 620 kasus.

Jepang mulai mengizinkan penumpang yang hasil tesnya negatif untuk turun dari kapal. Ratusan orang turun pada hari Rabu dan ratusan lainnya meninggalkan kapal pada hari Kamis.

Kapal itu mengangkut sekitar 3.700 orang ketika dikarantina pada 3 Februari dengan sekitar setengahnya dari Jepang. Sejumlah negara telah mengevakuasi warganya yang ada di kapal tersebut untuk diterbangkan pulang.