Tidak Ada Bangsa Makmur Karena Kekayaan Alam

TrenAsia (TA) - ”Tidak ada satu bangsa di dunia yang masyarakatnya makmur hanya karena kekayaan sumber daya alam (SDA) negaranya.”

Kalimat itu diucapkan bapak Iptek sekaligus mantan Presiden Republik Indonesia, B.J Habibie, di kediamannya, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa tahun lalu.

”Sebaliknya, sebuah bangsa bisa makmur karena kualitas sumber daya manusia (SDM)nya baik. Berkualitas,” lanjut Habibie.

Penulis yang mendengarkan langsung ungkapan itu merasa hal tersebut benar dan relevan sampai masa mendatang. Pendapat Habibie itu juga bukannya tanpa alasan dan sudah dibuktikan banyak Negara.

Pada posisi Negara dengan keunggulan SDM, Habibie mencontohkan beberapa di antaranya seperti Jepang, Korea Selatan, dan bahkan Singapura. Seluruhnya tidak mengandalkan SDA untuk memakmurkan Negara dan masyarakatnya.

Sebaliknya, Negara dengan andalan kekayaan SDA yang pada mulanya memang terasa dan terlihat makmur bisa berbalik menjadi berhadapan dengan sebuah persoalan yang cukup serius.

Dicontohkan, salah satu atau dua Negara di jazirah Arab yang kaya akan minyak. Sepanjang kaki melangkah di Negara itu sejatinya berjalan di atas melimpahnya kandungan minyak (dan mungkin gas) yang ada di bawahnya.

Saat harga minyak tinggi, katakan lah sekitar USD100 per barel maka kekayaan terlihat nyata. Negara dimaksud berubah menjadi seolah Negara paling makmur dengan pembangunan infrastruktur di sana sini.

Membangun dari hasil jualan minyak? Sebagian iya. Sebagiannya lagi dari hasil pinjaman Negara lain atau institusi keuangan global dengan mengagunkan potensi kekayaan minyak yang ada di perut bumi negaranya.

Tidak lama berjalan, perubahan harga minyak terjadi. Turun drastis sampai lebih dari separonya. Artinya, nilai kolateral atas pinjaman yang dilakukan menjadi kurang. Perlu tambah modal atau tambah jaminan.

Pada saat itu, kesulitan mulai melanda. Persoalan serius mulai menjadi tantangan bersamaan dengan pembangunan jor-joran yang mayoritas untuk infrastruktur pariwisata harus terus berjalan.

Sejatinya, kekayaan Negara karena kandungan SDA itu pun belum pernah mampu disebar merata kepada seluruh masyarakatnya. 

Sekali lagi, kalau sekadar SDA yang kaya, salah satu Negara di Afrika pun bisa dibilang kaya raya karena punya kandungan banyak berlian. Faktanya, masyarakatnya justru kesusahan dan malah terjadi perang saudara.

Bagaimana dengan Indonesia? Sejak zaman dulu, lewat lagu-lagu saja kita sudah seolah disadarkan dengan kekayaan SDA bumi pertiwi. Makmur kah masyarakat bangsa ini sekarang? Secara merata?

Benar bahwa sejak pra kemerdekaan, kekayaan alam seperti pala dan cengkih pernah melahirkan korporasi dan individu Indonesia yang kesohor karena kekayaannya.

Benar juga bahwa dari kekayaan SDA lahir korporasi-korporasi yang bisa menghidupi banyak karyawan dan menyumbang pajak tinggi kepada Negara. Sekali lagi, terjadi kah kemerataan kemakmuran dari situ?

Indonesia pernah menikmati booming  harga komoditi terutama batu bara setidaknya mulai sekitar 2008/2009 sampai sekitar tahun 2012.

Saking hebatnya pendapatan dari komiditi itu dan dampaknya bagi perekonomian, Kabinet pemerintahan menganggur saja tidak masalah. Negara akan tetap meraup untung.

Beruntung para ekonom saat itu, jelang menukiknya harga komoditi, sering mengingatkan pemerintah supaya berhenti tertidur pulas. Dibangunkan agar segera tersadar untuk tidak lagi mengandalkan komoditas.

Negara harus bergegas. Meninggalkan mindset  mengandalkan kekayaan SDA dan harus mulai lebih kreatif. Perlahan memang move-on tapi prosesnya ternyata panjang.

Proses itu tampaknya masih harus terus dijalankan sampai hari ini. Merealisasikannya tidak semudah membalik telapak tangan karena sudah terbiasa selama beberapa dekade dimanjakan SDA.

Belum pada tataran konkrit. Pola pikir banyak masyarakat dan sebagian elit, termasuk politisi, saja masih tertahan.

Satu bukti dalam kontestasi Pemilu 2019, termasuk Pilpres, perdebatan tentang kepemilikan SDA lebih nyaring terdengar dibandingkan membahas pentingnya membangun SDM supaya lebih berkualitas.

Dari perdebatan serupa itu saja masih mencerminkan SDM Indonesia yang masih bersandar dan mengandalkan SDA untuk keberlangsungan hidupnya dan Negara.

Nyaris tidak terdengar tentang pembangunan SDM agar lebih berkualitas sehingga bisa memaksimalkan SDA yang dimiliki. Peningkatan kualitas individu yang dengan begitu bisa membuat SDA mampu memakmurkan bangsa secara lebih nyata dan signifikan.

Indonesia Negara dengan banyak kebun cokelat tapi identitas produsen produk cokelat layak konsumsi justru menjadi milik Swiss. Padahal cokelat tidak tumbuh di Negara empat musim seperti di Swiss.

Indonesia punya banyak kilang minyak tapi sering direpotkan dengan persoalan minyak (BBM) sehingga harus impor karena kekurangan pada aspek SDM dan teknologi. Pemanfaatannya di dalam negeri tidak lebih dari sekadar proyek di hulu saja sehingga tidak salah jika regulator di sektor ini perlu orang-orang yang ahli dan mengerti. Lebih penting dari itu adalah yang cinta dan bela Negara.

Indonesia penghasil ini, penghasil itu, buminya kaya akan kandungan ini dan kandungan itu tapi nilai tambahnya kerap hadir di Negara lain. Sebab kemampuan SDM-nya belum sampai pada pengolahan, pengemasan, dan penjualan seperti Negara-negara yang SDM-nya lebih mumpuni.

Benar dan setuju bahwa Indonesia memang kaya akan SDA namun kekayaan sejati akan tercapai jika diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM. Supaya terjadi pemeretaan kemakmuran kepada masyarakat.Tentunya, peningkatan SDM tidak sebatas yang berkaitan dengan SDA saja. Dibutuhkan masyarakat kreatif yang siap membangun ekonomi kreatif terutama seiring dengan perkembangan digital saat ini.(*)