Tik Tok Lakukan Gerakan Say No to Cyberbullying

TrenAsia (TA) - JAKARTA – Platform berbagi video asal China, Tik Tok kembali naik daun akhir tahun lalu, akibat kepopulerannya pihak Tik Tok bekerja sama dengan Sudah Dong untuk membuat gerakan dan komunitas antiperundungan.

Gerakan ini diinisiasi dalam rangka memperingati Hari Internet Aman Sedunia. Sebagai salah satu platform kreativitas anak muda, Tik Tok berkomitemen untuk mejadikan platformnya dapat dinikmati secara aman dan nyaman bagi semua orang.

“Oleh karena itu, kami menciptakan panduan ini, di mana pengguna akan mendapatkan tips mengenai cara hadapi cyber bullying secara umum serta fitur-fitur keamanan di Tik Tok,” terang Donny Eryastha, Head of Public Policy Tik Tok Indonesia saat ditemui wartawan di Jakarta (11/02).

Langkah Tik Tok dan Sudah Dong mendapat apresiasi dari Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Ferdinandus Setu “Kami mengepresiasi langkah ini karena sejalan dengan program yang sedang kami lakukan dalam bentuk sosialisasi, roadshow, dan forum diskusi untuk mengkampanyekan internet yang sehat dan aman.”

Platform Besar

Hingga saat ini platform Tik Tok telah tersedia di lebih dari 150 pasar dalam 75 bahasa. Menariknya, Tik Tok mulai menggencarkan program lokalisasi untuk untuk mendorong terciptanya konten-konten yang berbasis budaya masing-masing kreator konten.

Sejak kembali naik daun tahun lalu, TechCrunch melaporkan pendapatan Tik Tok pada kuartal keempat 2019 mencapai Rp700 miliar. Pencapaian ini naik drastis hingga 310 persen dibandingkan dengan kuartal keempat tahun 2018.

Adapun laporan pengeluaran bruto aplikasi Tik Tok menembus Rp1,2 triliun pada periode yang sama dan pendapatan bersihnya mencapai Rp868 miliar di seluruh dunia kecuali negara asalnya, China.

Dengan nilai valuasi sebesar itu, tahun ini Tik Tok berpeluang untuk melantai di bursa saham dengam melaksanakan penjualan saha, perdana ke publik (IPO).

Perusahaan riset Sensor Tower merilis data akhir tahun lalu yang menyebut jika pengguna Tik Tok telah melampaui rekor pengguna Instagram (1 miliar unduhan), yakni tembus 1,5 miliar pengguna di seluruh dunia.

Dari 1,5 miliar pengguna secara global, tiga negara pasar utama Tik Tok adalah China, India, dan Amerika Serikat. Jumlah pengguna yang besar ini tentu berpengaruh pada banyaknya jumlah kreator yang terlibat di dalamnya.

Akan tetapi, Tik Tok memiliki model bisnis yang berbeda dengan YouTube. Tik Tok membedakan ruang antara konten dengan iklan, sehingga tidak sama dengan YouTube yang menyisipkan iklan di tengah video.

Untuk me-monetize konten, sang kreator dapat secara langsung menjalin kerja sama dengan brand dengan tanpa melibatkan Tik Tok sebagai perantara. Model bisnis ini serupa dengan Instagram, di mana brand dan influencer dapat langsung bermitra, sehingga tidak ada sharing revenue antara Tik Tok dengan kreator konten Tok Tok.